Kemenag

Kemenag Imbau Hormati Perbedaan Saat Bulan Ramadan 2026

Kemenag Imbau Hormati Perbedaan Saat Bulan Ramadan 2026
Kemenag Imbau Hormati Perbedaan Saat Bulan Ramadan 2026

JAKARTA - Wakil Menteri Agama RI, Romo Muhammad Syafi'i, menekankan pentingnya sikap saling menghormati antarwarga selama bulan Ramadan. 

Ia mengingatkan agar tidak ada praktik sweeping atau penutupan paksa warung makan yang masih beroperasi pada siang hari. Pesan ini disampaikan seusai sidang isbat penetapan 1 Ramadan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, sebagai upaya menegakkan toleransi dan kebersamaan di tengah perbedaan keyakinan.

Pentingnya Toleransi Antarumat

Syafi'i menjelaskan bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengedepankan empati dan penghormatan terhadap orang lain. "Enggak ada sweeping-sweeping lah. 

Itulah bentuk penghormatan kita. Selain kita yang berpuasa, masih ada saudara kita yang tidak berpuasa," ujarnya. Ia menekankan bahwa keberagaman dalam menjalani ibadah harus tetap dihormati agar masyarakat hidup harmonis.

Menurut Wamenag, umat muslim yang berpuasa perlu memahami bahwa tidak semua orang menjalankan puasa. Hal ini berarti keberadaan fasilitas publik seperti warung makan, restoran, atau kafe tetap dapat diakses oleh mereka yang tidak berpuasa. Kesadaran ini penting agar tidak terjadi gesekan sosial yang bisa mengganggu keharmonisan antarwarga.

Menghormati Hak Orang Tidak Berpuasa

Syafi'i menekankan bahwa tidak adil bila orang yang tidak berpuasa merasa kesulitan mendapatkan makanan atau minuman karena warung tutup. "Kan nggak mungkin gara-gara kita puasa, maka semuanya harus merasakan puasa," jelasnya. Pernyataan ini menekankan pentingnya menjaga hak individu sambil tetap menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Selain itu, Wamenag menekankan aspek sosial dari toleransi. Perbedaan keyakinan harus dianggap sebagai kekayaan budaya yang memperkuat persatuan, bukan sebagai sumber konflik. Setiap warga diharapkan tetap dapat beraktivitas sehari-hari tanpa merasa dibatasi oleh praktik ibadah orang lain.

Kebersamaan dan Kekompakan Sosial

Menurut Syafi'i, membangun kebersamaan selama Ramadan menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa. Ia menekankan agar sikap saling menghormati tidak hanya muncul dari mereka yang tidak berpuasa, tetapi juga dari umat muslim. Menghargai hak orang lain untuk tetap makan dan minum di siang hari menjadi bentuk toleransi konkret.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan sosial dan pemahaman publik terkait keberagaman praktik ibadah. Pihak keluarga, sekolah, dan komunitas perlu menanamkan nilai toleransi sejak dini. Hal ini diharapkan menciptakan masyarakat yang mampu menghormati perbedaan tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah Ramadan.

Pesan untuk Pengelola Fasilitas Umum

Wamenag mengimbau pengelola restoran, warung, dan kafe agar tetap membuka layanan bagi masyarakat yang tidak berpuasa. Langkah ini juga membantu menjaga kelancaran ekonomi lokal selama Ramadan. Dengan demikian, keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan publik tetap terjaga.

Selain itu, penyedia fasilitas publik dapat menampilkan tanda atau informasi yang sopan bagi pengunjung agar menghormati mereka yang berpuasa. Pendekatan ini membantu mencegah konflik dan memperkuat sikap saling menghargai antarumat.

Ramadan sebagai Waktu Toleransi

Romo Muhammad Syafi'i menekankan bahwa inti dari Ramadan tidak hanya menahan diri, tetapi juga menumbuhkan empati dan toleransi. Saling menghormati antarumat beragama dan antarindividu menjadi kunci menjaga persatuan bangsa. Dengan kesadaran ini, Ramadan dapat menjadi momen memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kekompakan sosial, dan harmoni antarwarga.

Pesan Wamenag ini menjadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat agar ibadah Ramadan dijalankan dengan hati yang tulus dan sikap yang bijaksana. Melalui penerapan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan praktik ibadah justru bisa mempererat persaudaraan dan kerukunan sosial di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index